Cerita Kami

Perjalanan Lembaga Seni Bougenville berakar dari dedikasi luar biasa H.Muhammad Yanis Chaniago, seorang maestro yang memandang seni bukan sekadar gerak, melainkan napas jati diri. Sebelum lahirnya Bougenville, beliau menempa visi seninya melalui Sanggar Wijaya Kusuma di bawah naungan Kodam XII/Tanjungpura. Di sana, beliau mengintegrasikan nilai kedisiplinan dan nasionalisme ke dalam seni tradisional, menjadikannya media pembinaan karakter yang terstruktur dan profesional.

Didorong oleh kegelisahan akan menyempitnya ruang bagi seni tradisional, H.M. Yanis Chaniago resmi mendirikan Sanggar Bougenville di Kota Pontianak pada 17 September 1984. Sanggar ini didedikasikan sebagai benteng pertahanan budaya sebuah wadah bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan leluhur Kalimantan Barat secara berkesinambungan.

Sebagai seorang pendidik dan pencipta, kontribusi H.M. Yanis Chaniago telah menjadi pilar seni di Kalimantan Barat. Beliau mengembangkan Langkah Dasar Tari Jepin Empat-Empat yang kini menjadi pakem rujukan, serta menciptakan Tari Sekapur Sirih sebagai tarian penyambutan ikonik yang hingga kini menjadi standar protokoler di Kalimantan Barat.

Semangat dan dedikasi tersebut kini dilanjutkan oleh putra beliau, H. Yuza Yanis Chaniago. Di bawah kepemimpinannya, Sanggar Bougenville bertransformasi menjadi Lembaga Seni Bougenville dengan manajemen yang lebih profesional dan orientasi pelestarian yang lebih luas.

Keberhasilan estafet kepemimpinan ini mendapatkan pengakuan resmi dari Pemerintah Provinsi. Pada 22 Oktober 2025, H. Yuza Yanis Chaniago dianugerahi Anugerah Kebudayaan dari Gubernur Kalimantan Barat. Penghargaan ini diberikan atas kontribusi luar biasa dan prestasi beliau dalam memajukan kebudayaan daerah, khususnya pada Kategori Pelestari.