H. Muhammad Yanis Chaniago

17 September 1938 - 11 Januari 2006

H. Muhammad Yanis Chaniago adalah tokoh seni dan budaya Kalimantan Barat kelahiran Pariaman, Sumatera Barat yang dikenal luas atas dedikasinya dalam pelestarian dan pengembangan seni tradisional, khususnya seni tari dan musik Melayu. Beliau menimba ilmu di Sumatera Selatan dengan Bapak Sauti (Guru Sauti) yaitu seniman asal Sumatera Utara yang dikenal sebagai pencipta Tari Serampang 12. Kiprahnya di dunia seni telah dimulai jauh sebelum berdirinya Lembaga Seni Bougenville. Di Sanggar Bougenville, kami menjaga, mengembangkan, dan melestarikan seni tari dan musik tradisional Melayu Kalimantan Barat serta mewariskan aset kebudayaan ini kepada generasi muda.

Sebelum mendirikan Sanggar Bougenville, H. Muhammad Yanis Chaniago terlebih dahulu mendirikan Sanggar Wijaya Kusuma yang berada di bawah naungan Kodam XII/Tanjungpura. Melalui sanggar ini, beliau berperan aktif dalam pembinaan seni budaya sebagai bagian dari penguatan jati diri, kedisiplinan, dan nasionalisme, dengan menjadikan seni tradisional sebagai media pemersatu serta pembinaan karakter. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk visi dan pendekatan beliau terhadap pengelolaan sanggar seni secara terstruktur dan profesional.

Berangkat dari pengalaman dan kegelisahan akan semakin berkurangnya ruang bagi seni tradisional di tengah masyarakat, pada 17 September 1984 di Kota Pontianak, beliau mendirikan Sanggar Bougenville. Sanggar ini dibangun sebagai wadah pembinaan generasi muda agar mampu mengenal, mencintai, dan melestarikan seni budaya daerah Kalimantan Barat secara berkesinambungan.

 

Sebagai seniman, pendidik, dan pencipta karya, H. Muhammad Yanis Chaniago dikenal memiliki perhatian besar terhadap sistematika pembelajaran tari. Salah satu kontribusi penting beliau adalah pengembangan langkah dasar Tari Jepin Empat-Empat, yang kemudian menjadi pakem dan rujukan dalam pembelajaran tari Melayu di Kalimantan Barat. Selain itu, beliau juga berperan dalam pengembangan dan penyebarluasan berbagai tari tradisional dan tari penyambutan, seperti Tari Sekapur Sirih, yang hingga kini kerap ditampilkan dalam acara adat, pemerintahan, dan penyambutan tamu kehormatan.

 

Di bawah kepemimpinan beliau, Sanggar Bougenville berkembang pesat menjadi pusat pembinaan seni yang konsisten melahirkan penari dan seniman muda. Karya-karya yang dihasilkan selalu berpijak pada nilai-nilai tradisi, namun dikemas secara kreatif dan adaptif sehingga mampu tampil di berbagai panggung, baik lokal, nasional, hingga internasional.

 Semangat, nilai, dan dedikasi H. Muhammad Yanis Chaniago kemudian dilanjutkan oleh generasi penerus. Kepemimpinan sanggar diteruskan oleh putranya, H. Yuza Yanis Chaniago, yang mengembangkan Sanggar Bougenville menjadi Lembaga Seni Bougenville, dengan cakupan program yang lebih luas, manajemen yang profesional, serta orientasi keberlanjutan pelestarian budaya.

Hingga kini, Lembaga Seni Bougenville berdiri sebagai representasi nyata dari perjalanan panjang dan pengabdian H. Muhammad Yanis Chaniago dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan seni budaya Kalimantan Barat, sekaligus menjadikannya bagian penting dari identitas dan kebanggaan daerah.